Prosedur medis tulang belakang biasanya digunakan untuk mengatasi berbagai masalah pada tulang bagian belakang, misalnya seperti nyeri kronis, saraf kejepit, atau cedera yang cukup parah hingga memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Umumnya, prosedur ini merupakan metode bedah yang hanya akan dilakukan jika terapi non-invasif tidak efektif.
Baca ulasan selengkapnya mengenai jenis-jenis operasi tulang belakang untuk nyeri kronis yang dapat dilakukan dan juga efek samping yang bisa timbul di artikel ini.
Untuk informasi lebih lanjut tentang saraf kejepit atau untuk mengatur jadwal konsultasi, hubungi Lamina Pain and Spine Center melalui WhatsApp di nomor 0811-8802-6621.
Apa itu prosedur medis tulang belakang?
Prosedur medis tulang belakang mencakup serangkaian tindakan untuk mendiagnosis, mengobati, atau memperbaiki masalah struktural dan fungsional pada tulang belakang. Tindakan ini melibatkan pendekatan invasif minimal hingga operasi besar.
Secara umum, masalah nyeri punggung dapat membaik tanpa perlu penanganan medis dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan.
Sehingga biasanya tindakan operasi ini hanya diperlukan bagi masalah dengan kondisi gejala berat saja.
Misalnya kondisi-kondisi yang disebabkan oleh degenerasi tulang belakang, contohnya spinal stenosis, hernia nukleus pulposus (HNP), atau masalah karena penyebab lain seperti trauma, serta infeksi dan tumor pada tulang belakang.
Manfaat dan tujuan prosedur medis pada tulang belakang
Tujuan prosedur medis pada tulang belakang bisa beragam, dari mengurangi tekanan pada saraf dan juga mengembalikan stabilisasi tulang belakang.
Utamanya, seluruh tindakan tersebut dilakukan guna memperbaiki gejala sakit punggung yang tak kunjung membaik atau semakin parah.
Dengan tujuan tersebut, prosedur operasi tulang belakang dapat memberikan berbagai manfaat, termasuk:
1. Mengurangi nyeri kronis
Nyeri kronis dari masalah punggung dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Setelah menjalani operasi, maka nyeri tersebut dapat teratasi sehingga dapat menjadi lebih produktif agar dapat kembali beraktivitas secara normal.
2. Memperbaiki fungsi motorik
Operasi dapat bermanfaat untuk memperbaiki fungsi motorik tubuh dan juga mengurangi kelemahan otot, sehingga tubuh menjadi lebih bugar dan bisa bergerak lebih baik.
3. Meningkatkan stabilitas tulang belakang
Tulang belakang jadi lebih stabil setelah menjalani penanganan invasif, sebab metode ini langsung mengatasi masalah di area tubuh yang terdampak.
4. Mempercepat pemulihan
Kemajuan teknologi pada bidang medis kini membantu adanya teknik bedah minimal invasif dengan pemulihan setelah operasi tulang belakang yang lebih cepat.
Sehingga pasien tidak perlu mengonsumsi obat terlalu banyak dan juga suasana hari bisa lebih baik karena tidak perlu berlama-lama menunggu masa pemulihan yang terlalu lama.
Siapa saja yang memerlukan operasi tulang belakang?
Walaupun sangat bermanfaat, namun dokter tidak merekomendasikan prosedur medis tulang belakang untuk semua masalah punggung.
Tindakan ini hanya dilakukan pada pasien yang mengalami gejala terlalu parah atau berkepanjangan.
Tidak hanya itu, pasien juga hanya bisa menjalaninya jika sudah melakukan pengobatan medis lain namun tidak menunjukkan perbaikan. Berikut adalah sejumlah indikasi medis untuk operasi tulang belakang:
- Nyeri yang tidak kunjung reda atau semakin parah setelah 2 minggu
- Rasa kaku atau kesemutan di bagian lengan ataau tungkai
- Demam
- Nyeri kronis yang tidak membaik setelah menjalani terapi non-bedah
- Lemah otot atau kehilangan fungsi gerak
- Ada penyakit atau masalah pada cakram tulang belakang akibat proses degeneratif atau penuaan
- Saraf terjepit, akibat prolapse diskus atau stenosis spinal
- Cedera tulang belakang, baik patah tulang maupun dislokasi
- Kelainan bawaan tulang belakang seperti skoliosis atau kifosis
- Kelainan pada saraf tulang belakang atau mielopati
- Infeksi atau tumor
- Spondylolisthesis, yakni kondisi tulang belakang bergeser atau menipis akibat cedera maupun osteoporosis
- Sindrom Cauda Equina, atau masalah pada akar saraf
Jenis-jenis prosedur medis tulang belakang
Pengaruh prosedur medis pada mobilitas pasien dengan gejala atau kondisi yang sudah parah sangat besar. Sebab, dapat kembali beraktivitas secara normal setelah menjalani prosedur tersebut.
Ada banyak macam tindakan yang dapat dilakukan, tergantung jenis penyakit dan kondisi yang dialami. Berikut adalah jenis-jenis prosedur medis tulang belakang:
1. Fusi tulang belakang
Bagi pasien dengan penyakit tulang belakang degeneratif, cedera berat, atau skoliosis, biasanya dokter akan menyarankan tindakan fusi tulang belakang.
Tindakan ini akan menggabungkan dua atau lebih ruas tulang belakang yang bertujuan untuk meningkatkan stabilitas.
Susunan tulang belakang yang kembali teratur juga dapat mencegah gerakan yang dapat menimbulkan tekanan pada saraf di tulang belakang. Sehingga sering kali operasi penggabungan ini dilakukan setelah teknik dekompresi tulang belakang.
2. Laminektomi
Laminektomi untuk stenosis spinal biasanya adalah tindakan yang paling direkomendasikan. Sebab, operasi pengangkatan tekanan saraf ini tepat untuk kondisi stenosis atau penyempitan.
Prosedur laminotomi akan melibatkan pemotongan sebagian dari lamina atau bagian belakang dari ruas tulang belakang untuk mengurangi tekanan pada saraf di area tersebut.
3. Foraminotomi
Prosedur foraminotomi memiliki metode yang mirip dengan laminektomi, yakni memotong tulang di bagian belakang.
Pemotongan tersebut dilakukan untuk memperbesar ruang gerak saraf dari tulang belakang sehingga mengurangi tekanan.
Tidak ada perbedaan laminektomi dan foraminotomi yang signifikan, namun keduanya sama-sama membuat kondisi tulang belakang menjadi kurang stabil sehingga setelahnya harus menjalani fusi tulang belakang. Biasanya pilihan pertama adalah foraminotomi sebagai solusi untuk dekompresi saraf.
4. Diskektomi
Bagi pasien herniasi diskus di mana bantalan sendiri menonjol keluar dan menekan saraf, biasanya ahli bedah saraf akan merekomendasikan untuk menjalani prosedur diskektomi.
Bagian cakram tulang belakang akan dipotong untuk membuka ruang di bagian tulang belakang menjadi lebih lebar sehingga penekanan pada saraf berkurang.
5. Implan interlaminar
Implan interlaminal merupakan jenis operasi tulang belakang alternatif dari laminektomi. Biasanya dapat dilakukan bersamaan dengan fusi tulang belakang.
Teknik minimal invasif pada tulang belakang ini akan menanamkan perangkat berbentuk U di antara dua tulang belakang di bagian lumbar atau punggung bawah.
6. Vertebroplasti
Vertebroplasti adalah prosedur yang dilakukan dengan menyuntikkan zat cairan seperti semen ke bagian tulang yang mengalami fraktur atau patahan.
Tujuannya adalah untuk memperkuat struktur tulang belakang sehingga mengurangi kompresi di area tersebut.
7. Kifoplasti
Mirip dengan vertebroplasti, prosedur kifoplasti juga melibatkan penyuntikkan semen ke bagian tulang belakang yang mengalami patah tulang.
Akan tetapi, sebelum menyuntikkan semen, dokter bedah ortopedi akan melebarkan bagian tersebut dengan balon khusus.
8. Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF)
Untuk masalah tulang belakang bagian servikal, ada prosedur khusus yang menggabungkan dua tindakan, yakni diskektomi dan fusi.
Prosedur ini bernama Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF) dan sering dilakukan untuk kondisi saraf terjepit di bagian leher.
9. Endoskopi
Endoskopi tulang belakang adalah pendekatan minimal invasif yang menggunakan kamera kecil untuk memperbaiki masalah seperti saraf terjepit.
Teknik ini menawarkan waktu pemulihan yang lebih cepat dibandingkan operasi konservatif lainnya.
Persiapan sebelum menjalani prosedur medis tulang belakang
Sebelum menjalani prosedur medis tulang belakang, pasien akan menjalani evaluasi menyeluruh, antara lain:
- Pemeriksaan fisik dan riwayat medis
- Wajib memberitahu dokter apabila sedang mengonsumsi obat maupun vitamin, memiliki alergi obat, sedang hamil atau berencana untuk hamil
- Tes darah dan metode pencitraan, seperti MRI, CT Scan, ataupun X-ray untuk diagnosis dan kondisi yang lebih akurat
- Berhenti merokok beberapa hari sebelumnya
- Berpuasa, selama beberapa jam sebelum operasi
- Mencukur rambut yang lebat di sekitar daerah operasi
Tata cara prosedur medis tulang belakang
Prosedur operasi tulang belakang dapat bervariasi, tergantung pada jenis operasi yang dilakukan dan kondisi pasien.
Umumnya, operasi dapat berlangsung selama 2-3 jam, namun bisa lebih tergantung kondisi dan prosedur yang dijalani.
Oleh karena itu, teknik minimal invasif biasanya lebih dipilih karena memiliki lama prosedur dan juga pemulihan yang lebih cepat.
Gambaran umum prosedurnya adalah sebagai berikut:
- Pasien berganti pakaian dengan jubah khusus operasi
- Pasien diminta untuk menanggalkan seluruh perhiasan yang dipakai
- Saat operasi dimulai, pasien biasanya akan dibius total dan diposisikan sesuai jenis operasi yang akan dilakukan
- Seluruh tindakan operasi tulang belakang akan melibatkan sayatan, sehingga dokter akan membuat sayatan pada kulit di area tulang belakang yang mengalami masalah
- Prosedur selanjutnya mengikuti jenis tindakan, apakah akan melakukan dekompresi atau stabilisasi dengan penanaman alat
- Setelah selesai, dokter akan menjahit area operasi dan menggunakan perban steril untuk menutup luka
- Tergantung kondisinya, pasien akan lanjut rawat inap atau diperbolehkan pulang untuk pemulihan pasca operasi
Setelah operasi, biasanya dokter akan memberikan obat-obatan untuk mempercepat pemulihan dan menganjurkan pasien agar tetap bergerak, misalnya dengan berjalan, untuk melatih mobilitas.
Masa pemulihan bisa memakan waktu hingga 6 minggu, walau ada teknik yang lebih cepat. Pasien juga akan diminta untuk kontrol rutin agar dokter dapat memantau proses pemulihan.
Risiko dan komplikasi pasca operasi tulang belakang
Walau relatif aman, tetap ada risiko prosedur medis tulang belakang akan terjadinya komplikasi.
- Beberapa komplikasi pasca operasi tulang belakang yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri pasca operasi
- Pembengkakan dan memar di sekitar area operasi
- Risiko pada luka operasi
- Keterbatasan gerakan, dapat bersifat sementara atau permanen
- Perubahan sensasi, seperti mati rasa, kesemutan, atau kelemahan
- Perdarahan
- Kerusakan atau cedera pada saraf
- Masalah pernapasan
- Reaksi terhadap anestesi
- Gagal fusi tulang
Oleh karena itu penting bagi pasien untuk berdiskusi dengan dokter mengenai risiko dan manfaat sebelum menjalani prosedur terkait. Dokter akan menghindari tindakan ini apabila penderita:
- Mengalami kifosis
- Berusia sangat muda atau masih anak-anak
- Belum menjalani terapi nonbedah dengan maksimal sebelumnya
Bagi pengidap osteoporosis, cedera berat pada bagian epidural, tumor ganas dan patah, infeksi tulang belakang, masih dapat dilakukan namun perlu berhati-hati.
Berapa lama pemulihan setelah operasi tulang belakang?
Pemulihan dapat memakan waktu 4 hingga 6 minggu atau bahkan hingga 12 bulan tergantung operasi yang dijalani. Setelah itu, pasien dapat kembali melakukan aktivitas ringan, dan sebaiknya menghindari aktivitas berat.
Demikian artikel pembahasan prosedur medis tulang belakang beserta jenis-jenis dan efek sampingnya. Semoga bermanfaat!
Atasi saraf kejepit bersama Lamina Pain and Spine Center
Jika Anda mengalami gejala saraf kejepit atau gangguan saraf lainnya, segera konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis untuk penanganan yang tepat.
Lamina Pain and Spine Center menawarkan solusi terbaik untuk mengatasi nyeri tulang belakang, termasuk melalui prosedur minimal invasif seperti Radiofrequency Ablation (RFA).
Dengan dukungan dokter ahli dan peralatan medis canggih, Lamina Pain and Spine Center siap membantu pemulihan kesehatan saraf Anda secara optimal. Jangan biarkan rasa sakit mengganggu aktivitas sehari-hari Anda.
Untuk informasi lebih lanjut atau untuk mengatur jadwal konsultasi, hubungi Lamina Pain and Spine Center melalui WhatsApp di nomor 0811-8802-6621. Dapatkan penanganan yang tepat dan rasakan perbedaannya!