Konten Artikel

Apa Itu MRI dan Bagaimana Cara Kerjanya?

mri

MRI adalah singkatan dari Magnetic Resonance Imaging, yakni salah satu metode pencitraan medis canggih yang memanfaatkan teknologi gelombang radio dan medan magnet kuat untuk menghasilkan gambar detail dari organ dan jaringan dalam tubuh.

Metode MRI biasanya digunakan untuk mendiagnosis berbagai kondisi kesehatan, misalnya seperti melihat lokasi saraf kejepit di bagian tulang punggung.

Selain itu, teknologi pencitraan medis berbasis magnetik ini juga dilakukan untuk keluhan terkait sendi dan otot, tulang, otak, pembuluh darah, serta jaringan lunak.

Artikel berikut akan membahas secara lengkap tentang fungsi, cara kerja, prosedur, hingga kelebihan dan kekurangan MRI.

Lamina Pain and Spine Center menawarkan layanan telekonsultasi via WhatsApp di nomor 0811-8802-6621, yang memudahkan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.

Apa itu MRI?

Magnetic Resonance Imaging atau MRI adalah sebuah prosedur non-invasif dalam dunia medis, yang bekerja dengan menggunakan magnet dan gelombang radio untuk memetakan struktur tubuh.

Khususnya, organ-organ dalam seperti otak, tulang belakang, sendi, dan juga pembuluh darah.

Disebut juga sebagai metode pencitraan resonansi magnetik, pengaruh MRI terhadap hasil diagnosa yang akurat sangat besar dan dianggap lebih unggul daripada teknik radiologi lainnya seperti CT Scan atau X-ray.

Pasalnya, mesin MRI mampu menampilkan jaringan lunak dengan sangat jelas dan detail. Sehingga dapat membantu untuk mendeteksi hingga gangguan yang sulit terlihat melalui teknik lainnya. 

Perbedaan antara MRI dan CT Scan

Walau terlihat sangat berbeda, akan tetapi masih banyak orang yang menganggap MRI dan CT Scan itu adalah prosedur yang sama. 

Perlu diketahui, perbedaan utama antara keduanya adalah teknologi yang digunakan. Yakni MRI yang menggunakan teknologi magnet dan radiofrekuensi, sedangkan CT Scan menggunakan sinar-X.

Kemudian perbedaan selanjutnya adalah tujuan pemeriksaan. Penggunaan MRI untuk diagnosis penyakit tertentu seperti peradangan sendi, penekanan saraf atau saraf kejepit, kerusakan tulang belakang, hingga robekan pada ligamen, otot, dan tulang rawan.

Sementara CT Scan biasanya dilakukan untuk pemeriksaan patah tulang, tumor atau kanker, dan menemukan pendarahan organ dalam.

Durasi pemeriksaan CT Scan yang lebih singkat tentu berpengaruh pada gambar pencitraan organ tubuh yang dihasilkan, di mana resolusinya lebih kecil dan tidak lebih detail daripada yang dihasilkan oleh mesin Magnetic Resonance Imaging.

Singkatnya, inilah perbedaan antara MRI dan CT Scan:

  • MRI menggunakan gelombang radio dan medan magnet, sedangkan CT scan dan X-ray menggunakan radiasi.
  • MRI lebih efektif untuk melihat jaringan lunak, sementara CT scan lebih baik untuk melihat struktur tulang dan organ padat.
  • Durasi MRI biasanya lebih lama dibandingkan CT scan atau X-ray

Fungsi MRI

MRI punya fungsi utama sebagai alat penunjang pemriksaan dengan diagnosis yang lebih akurat dan lebih aman. Dengan prosedur ini, dokter akan lebih mudah dalam menentukan letak gangguan dan juga cara pengobatan yang tepat terhadap keluhan yang dialami.

Biasanya, dokter radiologi akan menyarankan untuk melakukan metode ini pada pasien sebelum menentukan suatu tindakan.

Hasil MRI akan membantu dokter sebagai salah satu pertimbangan langkah dari tindakan selanjutnya, seperti misalnya operasi.

Sebagai contoh, dalam kasus saraf kejepit biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan radiologi seperti MRI.

Hasil yang diterima dapat membantu dokter menemukan lokasi dan juga kondisi bantalan tulang mana yang menekan saraf secara lebih jelas serta presisi.

Kemudian dokter juga bisa menentukan jenis pengobatan seperti apa yang tepat sesuai dengan lokasi saraf kejepit yang dialami oleh pasien.

Sebagai prosedur diagnosa kesehatan dan keluhan medis, metode ini juga berfungsi untuk:

1. Mendiagnosis gangguan otak dan tulang belakang

Otak adalah organ yang sering mengalami luka atau cedera di bagian dalam. Tidak hanya membantu untuk mendeteksi cedera, namun MRI juga bisa mendeteksi stroke, kanker, hingga kerusakan pembuluh darah pada otak.

Kemudian bagian tubuh yang paling umum diperiksa adalah tulang belakang, biasanya untuk keluhan saraf terjepit, hernia nukleus pulposus (HNP), dan juga cedera pada tulang belakang.

2. Memeriksa organ dalam

Berbagai macam keluhan pada organ dalam seperti jantung, ginjal, hati, pankreas, rahim, dan bahkan pembuluh darah dapat diperiksa kondisinya menggunakan MRI. Misalnya untuk mendeteksi gangguan atau peradangan pada pembuluh darah. 

Untuk kardiologi, mesin pencitraan resonansi magnetik ini dapat membantu untuk memeriksa struktur dan fungsi jantung, mendeteksi penyakit arteri koroner, mengevaluasi kerusakan setelah serangan jantung, hingga pergerakan dinding jantung.

3. Pemeriksaan sendi, otot, dan tulang

Masalah pada sendi, ligamen, atau otot yang terjadi dapat diperiksa melalui prosedur pencitraan non-invasif ini. Contohnya mendiagnosis masalah robekan achilles atau cedera rotator cuff.  

Cara kerja mesin MRI

Nah, dengan berbagai macam fungsi yang dapat dilakukan menggunakan MRI, bagaimana sih cara kerjanya mesin canggih tersebut? 

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, mesin ini bekerja menggunakan medan magnet. Mesinnya berbentuk tabung dengan lubang di tengahnya yang berfungsi untuk tempat pemindaian dengan meja pasien.

Medan magnet kuat yang dihasilkan akan menyebabkan atom-atom di dalam tubuh manusia bereaksi. Lalu, mesin akan mengirimkan gelombang radio yang ikut memancing reaksi tersebut.

Saat gelombang radio dimatikan, atom akan kembali ke posisi semula dan mesin akan menangkap sinyal radio.

Sinyal tersebut diterima oleh komputer yang akan mengubahnya menjadi gambar bagian tubuh yang sedang diperiksa, kemudian dokter akan menggunakan gambar tersebut sebagai acuan untuk menegakkan diagnosis dan menentukan pengobatan.

Tahapan prosedur MRI

Karena menggunakan mesin canggih dan durasi pemeriksaan yang cukup lama, yakni hingga kurang lebih 20 menit, ada banyak hal yang harus Anda persiapkan sebelum menjalani prosedur ini.

Selain itu, ada banyak kondisi kesehatan yang juga harus dipertimbangkan.

Prosedur MRI dilakukan di rumah sakit yang menyediakan layanan tersebut. Pasien akan diminta menggunakan pakaian khusus dan didampingi oleh tenaga medis serta dokter selama pemeriksaan berlangsung.

Berikut adalah tahapan prosedur Magnetic Resonance Imaging:

1. Persiapan

Dalam persiapan sebelum menjalani MRI, pihak rumah sakit akan menyediakan pakaian khusus. Pasien harus berganti menggunakan pakaian tersebut, kemudian diminta untuk melepaskan berbagai macam benda logam yang ada di tubuh, seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, atau tindik di tubuh agar tidak mengganggu medan magnet.

2. Posisi pasien

Setelah berganti baju dan bersiap, pasien akan diminta untuk berbaring di meja khusus pasien yang nantinya akan masuk ke dalam mesin tabung MRI.

3. Pemeriksaan

Meja pasien akan ditarik masuk ke dalam tabung besar saat pemeriksaan berlangsung. Pasien tidak boleh bergerak agar memastikan gambar yang dihasilkan akan jelas. 

Dalam beberapa kasus, prosedur ini menggunakan zat kontras atau pewarna khusus yang disuntikkan ke pembuluh darah untuk meningkatkan detail gambar.

4. Durasi pemeriksaan

Tergantung dari bagian tubuh yang diperiksa, lama durasi pemeriksaan biasanya memakan waktu selama 15-90 menit.

Biasanya, pasien langsung diperbolehkan kembali atau pulang dan dapat melanjutkan aktivitas secara normal karena tidak ada efek samping apapun. 

Kelebihan dan kekurangan MRI

Walaupun canggih dan disebut-sebut tanpa efek samping, suatu prosedur tentu ada kelebihan dan juga kekurangannya. Berikut penjelasan dari masing-masing aspek sebagai perbandingan:

Kelebihan dan manfaat melakukan MRI

Prosedur pemeriksaan medis satu ini memang bisa dibilang masih baru dalam bidang kedokteran. Sebagai salah satu pilihan utama dalam diagnosis medis, MRI juga unggul dalam keamanan untuk pasien.

Contohnya, MRI tergolong tindakan non-invasif, yang berarti tidak ada sayatan ataupun radiasi yang digunakan pada tubuh dan juga meminimalisir rasa sakit.

Hingga kini, para peneliti juga belum menemukan adanya efek samping dari teknologi magnet dan gelombang radio yang dihasilkan oleh mesin MRI. Karenanya, prosedur ini disebut cukup aman bagi ibu hamil.

Keunggulan lainnya adalah gambar dengan kualitas dan resolusi tinggi, sehingga cukup akurat sebagai alat bantu diagnosis dokter dan juga deteksi kelainan pada jaringan lunak. 

Bahkan dengan MRI sangat memunginkan untuk melakukan deteksi dini dari sejumlah penyakit, salah satunya kanker, sehingga meningkatkan peluang agar pengobatan lebih efektif.

Risiko dan kekurangan MRI

Walaupun punya segudang keunggulan, tapi ada juga risiko yang dapat timbul bagi pasien yang menjalani pemeriksaan MRI.

Potensi risiko dan sejumlah keterbatasan ini jadi kekurangan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.

Contohnya seperti:

  • Memicu rasa tidak nyaman bagi pasien dengan claustrophobia lantaran mesin MRI tampak seperti terowongan sempit, biasanya dokter akan mengatasinya dengan konsumsi obat penenang terlebih dahulu
  • Adanya gangguan medan magnet pada pasien yang memiliki implan logam
  • Harganya relatif mahal, rata-rata biaya MRI di rumah sakit memakan Rp2,5 juta hingga belasan juta untuk sekali pemeriksaan

Kapan kita membutuhkan MRI?

Dokter akan merekomendasikan prosedur MRI apabila diagnosis membutuhkan detail yang lebih mendalam terkait struktur tubuh. Biasanya terdapat indikasi utama seperti berikut ini:

  • Nyeri kronis yang tidak diketahui penyebabnya
  • Gangguan neurologis seperti stroke atau multiple sclerosis
  • Cedera serius pada otot, tulang, atau ligamen

Demikian pembahasan mengenai apa itu MRI, bagaimana cara kerjanya, hingga risiko dan manfaat MRI untuk diagnosis penyakit-penyakit serius.

Konsultasikan terlebih dahulu pada dokter sebelum menjalani pemeriksaan ini, apalagi jika Anda punya riwayat medis tertentu atau memakai implan logam dalam tubuh.

Meski prosedurnya relatif aman, namun sebaiknya perhatikan apa tujuan dan manfaatnya agar hasil yang dicapai optimal sehingga mempercepat kesembuhan. Semoga bermanfaat!

Lamina Pain and Spine Center: Solusi Terbaik untuk Saraf Kejepit

Jika Anda mengalami gejala yang menunjukkan adanya masalah pada saraf, seperti rasa nyeri atau kesemutan pada bagian tubuh tertentu, jangan biarkan kondisi ini berlarut-larut.

Segera konsultasikan dengan dokter spesialis di Lamina Pain and Spine Center untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius dan memulihkan kualitas hidup Anda.

Lamina Pain and Spine Center memiliki pengalaman yang luas dalam menangani berbagai keluhan saraf kejepit.

Lokasi utama kami berada di Mampang, Jakarta Selatan, kami juga hadir di beberapa cabang lain, seperti Cibubur, Kuningan, dan Pulomas, agar Anda lebih mudah mengakses layanan kami.

Kami memahami bahwa kesibukan sering kali menjadi hambatan bagi Anda untuk mendapatkan perawatan langsung.

Oleh karena itu, kami menawarkan layanan telekonsultasi via WhatsApp yang memudahkan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa harus datang ke klinik.

Jangan ragu untuk menghubungi tim kami melalui WhatsApp di 0811-8802-6621 untuk membuat janji konsultasi.

Dapatkan solusi terbaik untuk masalah saraf Anda dengan layanan cepat, profesional, dan terpercaya di Lamina Pain and Spine Center.

Ditulis Oleh

Yogi Wicaksono

Tanggal Publikasi

February 14, 2025

Request Callbcak

Artikel Lainnya

Skiatika: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

skiatika

Mengenal Skoliosis: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganannya 

skoliosis - lamina pain and spine center