Cubital tunnel syndrome adalah salah satu penyebab terjadinya saraf kejepit di bagian siku. Sindrom ini terjadi akibat adanya kompresi saraf ulnaris di siku.
Kompresi atau penekanan tersebut dapat menyebabkan sejumlah gejala muncul, seperti sensasi kesemutan atau nyeri pada siku dan lengan bagian bawah.
Pahami lebih jauh mengenai cubital tunnel syndrome, penyebab, gejala, hingga cara pengobatannya yang efektif di artikel ini.
Hubungi Lamina Pain and Spine Center hari ini melalui WhatsApp di 0811-8802-6621 untuk konsultasi dan pelajari lebih lanjut tentang bagaimana prosedur Joimax dapat membantu Anda kembali menjalani kehidupan yang aktif dan bebas nyeri saraf kejepit.
Pengertian Cubital tunnel syndrome
Cubital tunnel syndrome adalah gangguan saraf yang terjadi ketika saraf ulnar terjepit atau teriritasi di bagian dalam siku. Kondisi ini sering disebut juga sebagai sindrom terowongan kubital yang menjadi salah satu jenis saraf kejepit.
Terowongan kubital adalah ruang sempit di dalam siku tempat saraf ulnar melintas. Karena ruang ini sangat kecil dan saraf ulnar kurang terlindungi, tekanan atau aktivitas tertentu dapat dengan mudah menyebabkan iritasi, peradangan, dan juga bengkak.
Saraf ulnar dapat menyebabkan berbagai respons, seperti rasa nyeri ketika siku terbentur yang mirip “kesetrum”. Nah, ketika saraf ini terjepit, rasa nyerinya bisa terasa semakin parah.
Penyebab Cubital tunnel syndrome
Secara umum, para ahli belum mengetahui secara jelas apa yang menjadi penyebab dari sindrom cubital ini.
Akan tetapi, ada beberapa hal yang diketahui menjadi penyebab utama nyeri dan mati rasa di lengan bawah yang berkontribusi pada cubital tunnel syndrome, meliputi:
1. Tekanan berulang pada siku
Neuropati ulnaris sebagai penyebab cubital tunnel syndrome yang paling umum terjadi. Kondisi ini terjadi karena adanya gerakan berulang pada siku dalam waktu lama, misalnya saat bermain golf.
Selan itu, sebagian besar penyebab cubital tunnel syndrome pada pekerja kantoran adalah terlalu lama menekuk siku saat mengetik di komputer atau laptop.
Tekukan berulang ini dapat menyebabkan saraf tertekan dapat menyebabkan iritasi.
Kemudian menopang berat tubuh atau membiarkan siku terus-menerus menekan permukaan keras juga dapat menjadi salah satu faktor adanya kompresi saraf siku atau ulnaris.
2. Fleksi siku yang berlebihan
Kebiasaan menekuk siku terlalu lama, seperti saat menggunakan ponsel atau tidur dengan posisi siku tertekuk, dapat memperburuk kondisi ini akibat saraf yang berada di belakang siku tertekan secara konstan.
3. Masalah anatomi
Beberapa orang mungkin memiliki masalah anatomi terkait, misalnya seperti struktur terowongan kubital yang lebih sempit, jaringan lunak di sekitar saraf menebal, maupun adanya otot tambahan di area saraf tersebut yang mengganggu fungsi saraf sehingga meningkatkan risiko terkena sindrom ini.
Masalah tersebut juga dapat terjadi karena mengidap penyakit seperti arthritis, bone spurs atau penambahan tulang, dan juga cedera, fraktur, maupun dislokasi pada siku.
Faktor risiko Cubital tunnel syndrome
Penyebab pasti cubital tunnel syndrome memang masih belum diketahui, namun ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom nyeri saraf ulnaris ini, antara lain:
- Cedera di bagian tubuh atas, misalnya disebabkan karena kecelakaan
- Usia di atas 40 tahun
- Pekerja kantoran atau secara umum pekerjaan yang harus menekuk siku dalam waktu lama
- Gerakan berulang pada siku seperti melempar dengan frekuensi tinggi
- Mengistirahatkan atau membiarkan siku menekan bagian permukaan keras secara terus-menerus
- Adanya riwayat dislokasi maupun patah pada siku
- Obesitas atau kegemukan
- Ada kista yang muncul di area sendi pada siku
Gejala Cubital tunnel syndrome
Gejala sindrom cubital tunnel sebagian besar hampir mirip dengan masalah kesehatan lainnya, yakni seperti medial epicondylitis atau golfer’s elbow yang menyebabkan rasa nyeri di bagian siku.
Untuk membedakannya, saraf kejepit di jari tangan akibat cubital tunnel syndrome dapat dikenali melalui gejala-gejala berikut ini:
1. Kesemutan dan mati rasa
Dampak ergonomi buruk terhadap cubital tunnel syndrome seperti menekuk siku terlalu lama paling sering mengakibatkan mati rasa dan juga sensasi kesemutan. Terutama di area jari kelingking, jari manis, dan sisi telapak tangan.
2. Rasa nyeri pada siku dan lengan bawah
Munculnya rasa nyeri yang menjalar ke lengan bawah dan menjadi lebih intens ketika menggunakan siku secara berlebihan atau tidak sengaja membenturkan siku pada permukaan keras.
3. Kelemahan pada tangan
Cedera siku akibat tekanan saraf dapat mengakibatkan kelemahan pada tangan yang menyebabkan sulit menggenggam atau menggerakkan jari.
4. Kehilangan koordinasi motorik halus
Kesulitan dalam koordinasi motorik halus, seperti melakukan aktivitas yang membutuhkan gerakan tangan halus, seperti mengetik atau menulis.
Cara mendiagnosis Cubital tunnel syndrome
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, gejala-gejala dari sindrom cubital hampir mirip dengan sejumlah kondisi kesehatan lainnya sehingga dapat menyulitkan dalam menentukan diagnosa dan pengobatan cubital tunnel syndrome.
Salah satunya adalah guyon canal syndrome yang juga menyebabkan saraf kejepit. Namun bedanya cubital tunnel syndrome dan guyon canal syndrome adalah lokasi terjadinya kompresi pada saraf.
Oleh karena itu, untuk dapat memastikannya dokter bisa melakukan serangkaian tes fisik seperti tes konduksi saraf untuk mengukur seberapa cepat sinyal melewati saraf dan menemukan adanya kompresi.
Kemudian tes elektromiografi (EMG) juga dapat dilakukan untuk mengecek fungsi saraf serta otot di lengan atas, di mana dikendalikan oleh saraf ulnaris.
Sebagai pendukung, sejumlah tes pencitraan seperti X-ray, rontgen, atau MRI untuk melihat adanya penyempitan terowongan kubital atau masalah struktural lainnya.
Penanganan Cubital tunnel syndrome
Penting untuk mengenali gejala cubital tunnel syndrome dan cara mengatasinya tergantung pada tingkat keparahannya. Berikut beberapa metode perawatan medis dan non-medis untuk cubital tunnel syndrome yang biasanya direkomendasikan:
1. Istirahat
Mengurangi aktivitas yang memberikan tekanan berlebih pada siku untuk menghindari iritasi lebih lanjut.
2. Memakai splint atau penyangga
Splint atau penyangga digunakan untuk menjaga posisi siku agar tidak tertekuk selama tidur atau aktivitas tertentu. Selain itu juga dapat menggunakan pelindung siku untuk membantu melunakkan area tersebut
3. Mengonsumsi obat antiinflamasi
Obat antiinflamasi (OAINS/NSAID) seperti ibuprofen dan naproxen dapat membantu mengurangi peradangan dan nyeri. Opsi lainnya adalah dengan memberikan injeksi steroid guna meredakan pembengkakan dan rasa sakit.
4. Latihan peregangan
Latihan sederhana untuk meredakan cubital tunnel syndrome dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas, serta mengurangi tekanan pada saraf ulnar.
Teknik fisioterapi untuk pemulihan cubital tunnel syndrome biasanya dirancang oleh dokter ortopedi dan fisioterapis.
5. Operasi bedah
Jika gejala tidak membaik dengan pengobatan cubital tunnel syndrome non-bedah, operasi mungkin diperlukan. Jenis operasi yang umum dilakukan meliputi:
- Operasi dekompresi, bertujuan untuk memperbesar ruang di sekitar saraf ulnar sehingga tekanan dapat berkurang.
- Transposisi saraf ulnar, dengan memindahkan saraf tersebut dari posisinya semula ke lokasi yang lebih terlindungi untuk mengurangi iritasi.
Komplikasi Cubital tunnel syndrome yang dapat terjadi
Apabila tidak mendapatkan penanganan dini dan tepat, sindrom kubital bisa menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti kelemahan ada otot yang mengganggu kemampuan untuk menggenggam.
Kemudian, fungsi saraf yang dapat berangsur-angsur menghilang, misalnya sensasi nyeri dan sensori perabaan di daerah tangan dan lengan bawah. Tidak hanya bagian ulnar, namun bagian saraf skapular yang berada di bagian lengan atas juga dapat terdampak.
Jika Anda merasakan gejala cubital tunnel syndrome yang tidak kunjung membaik, seperti nyeri yang parah, kesemutan yang terus-menerus, atau kelemahan pada tangan, segera konsultasikan ke dokter agar dapat mencegah kondisi ini berkembang menjadi lebih serius.
Bagaimana cara mencegah Cubital tunnel syndrome?
Pencegahan sindrom cubital tunnel melibatkan perubahan kebiasaan sehari-hari dan adopsi postur yang baik. Beberapa langkah yang dapat Anda ambil meliputi:
- Menghindari tekanan berlebih pada siku dengan menggunakan bantalan atau alas lembut saat bekerja atau bersandar di permukaan keras
- Bagi yang bekerja dengan gerakan siku yang berulang, beristirahatlah secara berkala, yakni setiap 30 menit untuk merilekskan otot
- Pentingnya ergonomi kerja untuk mencegah cubital tunnel syndrome, seperti menghindari postur kerja yang buruk dengan menjaga lengan tetap lurus saat mengetik
- Menggunakan teknik yang tepat untuk mengangkat beban berat atau melakukan gerakan berulang guna meminimalisir risiko cedera
- Melakukan latihan tangan untuk saraf kejepit dengan pemanasan atau gerakan ringan sebelum melakukan aktivitas dengan penggunaan siku yang cukup intens
Cubital tunnel syndrome adalah kondisi yang dapat memengaruhi kualitas hidup jika tidak ditangani dengan baik.
Meskipun penyebab utamanya adalah tekanan pada saraf ulnar di siku, kebiasaan sehari-hari seperti posisi tubuh yang salah dan aktivitas berulang dapat memperburuk kondisi ini.
Bebas dari Nyeri Saraf Kejepit dengan Joimax di Lamina
Nyeri saraf kejepit bukan hanya sekadar ketidaknyamanan; ini adalah kondisi yang dapat secara signifikan menurunkan kualitas hidup, membatasi mobilitas, dan mengurangi produktivitas.
Kondisi ini memerlukan solusi medis yang efektif dan tepat guna untuk meredakan gejala dan mengembalikan fungsi normal tulang belakang.
Lamina Pain and Spine Center menawarkan solusi inovatif melalui prosedur Joimax, sebuah metode minimal invasif yang telah terbukti aman dan efektif dalam mengatasi saraf kejepit.
Mengapa Memilih Prosedur Joimax? Keunggulan yang Membedakan
Prosedur Joimax menawarkan pendekatan yang revolusioner dibandingkan dengan pembedahan konvensional.
Alih-alih sayatan besar yang menyebabkan rasa sakit yang berkepanjangan dan waktu pemulihan yang lama, Joimax memanfaatkan teknologi canggih untuk memperbaiki saraf kejepit dengan presisi dan minimal invasif.
Keunggulannya meliputi:
- Minimisasi Trauma dan Rasa Sakit: Insisi kecil yang dilakukan selama prosedur Joimax meminimalkan kerusakan jaringan sekitar, sehingga mengurangi rasa sakit pasca operasi dan mempercepat proses penyembuhan.
Pasien dapat merasakan kenyamanan yang lebih baik dan pemulihan yang lebih cepat.
- Pemulihan yang Cepat dan Efisien: Dibandingkan dengan metode tradisional, pasien yang menjalani prosedur Joimax dapat kembali beraktivitas normal jauh lebih cepat.
Hal ini meminimalkan gangguan pada rutinitas harian dan produktivitas, memungkinkan pasien untuk kembali menjalani kehidupan yang aktif dan produktif.
- Risiko Komplikasi yang Ditekan: Sifat minimal invasif dari prosedur Joimax secara signifikan mengurangi risiko komplikasi pasca operasi seperti infeksi dan perdarahan. Keamanan pasien menjadi prioritas utama dalam setiap prosedur.
- Pendekatan yang Tepat dan Terpersonalisasi: Prosedur Joimax dirancang untuk memberikan solusi yang tepat sasaran dan disesuaikan dengan kondisi spesifik setiap pasien. Hal ini memastikan perawatan yang efektif dan efisien.
Hubungi Lamina Pain and Spine Center hari ini melalui WhatsApp di 0811-8802-6621 untuk konsultasi dan pelajari lebih lanjut tentang bagaimana prosedur Joimax dapat membantu Anda kembali menjalani kehidupan yang aktif dan bebas nyeri saraf kejepit.