Konten Artikel

Mengenal Prolapse Diskus: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

prolapse diskus

Prolapse diskus, yang juga dikenal sebagai herniasi diskus atau slipped disc, adalah salah satu penyebab saraf kejepit yang paling umum.

Penyebabnya adalah diskus atau bantalan sendi pada tulang belakang menonjol keluar dan menekan saraf.

Berbagai gejala dapat timbul ketika bantalan tersebut menekan saraf di sekitarnya, dari nyeri hingga mati rasa.

Ketahui gejala lain, penyebab umum prolapse diskus dan faktor risikonya, serta pengobatannya secara lengkap di artikel ini!

Jangan biarkan rasa sakit akibat saraf kejepit menghalangi aktivitas Anda. Segera konsultasikan kondisi saraf kejepit ke Lamina Pain and Spine Center melalui telekonsultasi WhatsApp di 0811-8802-6621 dan temukan solusi terbaik.

Apa itu Prolapse Diskus? 

Prolapse diskus adalah istilah lain dari hernia nukleus pulposus atau herniasi diskus, yakni sebuah kondisi di mana bantalan sendi yang berada di antara tulang belakang menonjol keluar atau bocor melalui bagian luar yang keras. 

Bantalan sendi yang juga disebut dengan diskus ini memiliki fungsi untuk menyerap tekanan dan memberikan fleksibilitas pada tulang punggung.

Bentuknya yang bulat pipih ini punya bagian luar yang keras dan bagian dalam yang lembut seperti gel.

Karena berbagai penyebab, salah satunya bagian luar diskus yang melemah, bantalan tersebut bisa mencuat keluar dari tulang punggung.

Akibatnya, saraf di sekitarnya dapat tertekan dan menimbulkan berbagai gejala seperti peradangan, nyeri, hingga pembengkakan. 

Kerusakan diskus tulang belakang dapat terjadi di bagian mana saja, namun yang paling sering terjadi berada di bagian lumbar atau bawah punggung. Selain itu, ada juga di bagian servikal atau leher.

Beda Prolapse Diskus dengan Hernia Nukleus Pulposus (HNP)?

Meski punya sebutan nama yang berbeda, namun sebenarnya tidak ada perbedaan antara prolapse diskus dan HNP (Hernia Nukleus Pulposus). Kedua nama tersebut sama-sama merujuk pada satu penyakit yang sama.

Hanya saja, biasanya kondisi prolapse diskus mengacu pada kondisi di mana diskus tulang belakang mencuat keluar tetapi bagian tengahnya tidak mengalami kebocoran. Sedangkan herniasi diskus atau HNP mengacu pada kondisi saat bagian tengah tersebut bocor ke area luar tulang belakang. 

Penyebab Prolapse Diskus

Masih belum diketahui apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Ada beberapa orang dengan pekerjaan atau aktivitas yang sama, namun tidak semuanya mengalami kondisi ini. 

Secara umum, prolapse diskus biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor berikut ini:

1. Penuaan

Risiko degenerasi diskus pada usia lanjut tentunya akan semakin tinggi. Dengan bertambahnya usia, diskus akan kehilangan fleksibilitasnya dan menjadi lebih rentan mengalami kerusakan.

2. Cedera atau trauma

Hubungan antara cedera tulang belakang dan prolapse diskus sangat tinggi, misalnya yang diakibatkan oleh aktivitas berat, cedera olahraga, atau kecelakaan.

3. Gerakan berulang

Sering melakukan gerakan berulang seperti misalnya saat berolahraga angkat beban berisiko tinggi mengalami herniasi diskus.

4. Postur tubuh yang buruk

Berdiri, duduk, ataupun mengangkat barang berat dengan postur tubuh yang benar akan meningkatkan risiko terkena prolapse diskus. 

5. Faktor genetik

Jika terdapat riwayat keluarga dengan masalah tulang belakang, contohnya seperti skoliosis, dapat meningkatkan risiko HNP. 

6. Kelebihan berat badan

Obesitas atau berat badan berlebih akan memberikan tekanan tambahan pada tulang belakang. Nyeri punggung bawah akibat prolapse diskus adalah gejala yang paling umum dirasakan oleh orang yang obesitas.

Faktor risiko Prolapse Diskus

Prolapse diskus umum terjadi pada orang lanjut usia, namun bisa juga terjadi pada orang yang lebih muda yakni pada rentang usia antara 30 hingga 50 tahun. Selain itu, pria juga lebih berisiko tinggi terkena daripada wanita. 

Adapun faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko prolapse diskus antara lain:

  • Pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas mengangkat, contoh seperti tukang bangunan
  • Pekerjaan yang banyak menghabiskan waktu untuk duduk, seperti supir bus
  • Olahraga angkat berat
  • Merokok
  • Obesitas

Gejala awal Prolapse Diskus pada tulang belakang

Kompresi saraf akibat prolapse diskus dapat menimbulkan sejumlah gejala. Semakin besar prolapse diskus yang dialami, maka gejalanya akan semakin parah. 

Meskipun begitu, perlu diketahui bahwa ada beberapa orang yang mungkin tidak mengalami gejala apapun. Gejalanya juga bisa membaik seiring waktu tanpa memerlukan penanganan medis apapun.

Timbulnya gejala ini bergantung pada lokasi herniasi dan tingkat tekanan pada saraf, berikut di antaranya: 

1. Nyeri punggung atau leher

Rasa nyeri punggung bawah (lumbar) atau leher (servikal) yang muncul ketika bergerak biasanya jadi tanda awal prolapse diskus. Gejala ini timbulnya tiba-tiba dan akan terasa lebih sakit jika menggerakkan punggung, batuk atau bersin.

2. Nyeri menjalar

Rasa nyeri juga dapat menjalar ke bagian tubuh lainnya, seperti di kaki hingga pantat (sciatica) serta ke lengan atau bahu apabila mengalami prolapse di bagian leher. Nyeri yang menjalar ini juga disertai dengan rasa terbakar.

3. Mati rasa atau kesemutan

Saraf yang tertekan dapat menyebabkan sensasi kesemutan atau seperti tertusuk jarum pada area yang terkoneksi dengan saraf tersebut. Apabila tekanannya terlalu besar, prolapse diskus bisa menyebabkan mati rasa. 

4. Kelemahan otot

Pada kondisi prolapse yang lebih parah, gejala kelemahan otot dapat timbul dan bisa memengaruhi kemampuan untuk mengangkat atau menggenggam sesuatu. Sehingga akan mengganggu aktivitas sehari-hari. 

5. Disfungsi kandung kemih atau usus

Tekanan diskus pada saraf juga dapat menyebabkan gejala disfungsi kandung kemih yang menyebabkan inkontinensia atau di usus, biasanya disertai dengan mati rasa di area kelamin maupun anal.

Jika gejala ini terjadi, maka berarti tanda darurat medis yang perlu mendapatkan penanganan segera. 

Bagaimana cara mendiagnosis Prolapse Diskus?

Diagnosis prolapse diskus dengan MRI atau CT Scan merupakan cara yang paling umum dilakukan.

Metode pencitraan MRI dilakukan untuk melihat jaringan lunak secara detail dan menentukan lokasi diskus yang mencuat keluar, terutama jika pasien akan menjalani operasi.

Sedangkan, pencitraan CT Scan atau X-Ray digunakan untuk memvisualisasikan tulang belakang dan membantu dokter untuk melihat lokasi prolapse diskus. 

Kemudian ada juga tes Elektromiografi (EMG) guna membantu mengevaluasi fungsi saraf yang terpengaruh oleh kondisi diskus. 

Tes-tes tersebut biasanya disarankan oleh dokter apabila gejalanya tidak segera membaik. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengecek refleks, kekuatan otot, dan juga rentang gerak pasien.

Pengobatan Prolapse Diskus

Teknik pengobatan prolapse diskus tanpa operasi maupun dengan operasi akan ditentukan tergantung pada tingkat keparahan gejala. Adapun jenis-jenis pengobatannya antara lain:

1. Fisioterapi

Sebanyak 60-70 persen kasus prolapse diskus bisa diobati hanya dengan beristirahat yang cukup dan sudah bisa kembali beraktivitas secara normal.

Namun jika gejalanya tidak juga mereda, dokter biasanya akan menyarankan fisioterapi untuk meningkatkan stabilitas tulang belakang.

2. Latihan peregangan

Latihan ringan untuk mengatasi prolapse diskus juga bisa dilakukan, seperti latihan peregangan dan penguatan otot yang mudah.

Hindari aktivitas berat yang dapat memicu nyeri dan ubah posisi tidur yang lebih nyaman di kasur atau bantal yang tidak keras. 

3. Obat-obatan

Konsumsi obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen bisa membantu mengatasi gejala, termasuk untuk mengurangi peradangan di bagian yang terasa sakit.

4. Suntik steroid epidural

Dokter bisa menganjurkan untuk suntik steroid epidural langsung ke bagian punggung yang mengalami peradangan atau nyeri.

Steroid merupakan obat pereda nyeri yang sangat kuat, ini dilakukan oleh spesialis atau ahli bedah tulang belakang karena memerlukan bius lokal dan panduan fluoroskopik.

5. Operasi

Jika nyeri tidak kunjung hilang setelah 3-6 minggu pengobatan non bedah atau muncul gejala kelemahan otot yang cukup parah, maka dokter biasanya akan menyarankan tindakan operasi. Ada bermacam-macam jenis operasi yang dapat dilakukan, yakni:

  • Microsurgery, dengan sayatan kecil untuk memotong bagian diskus yang mencuat atau tergelincir keluar
  • Endoskopi diskektomi, mengangkat sebagian diskus yang menekan saraf dan memerlukan bius lokal
  • Laminektomi, mengangkat sebagian tulang di atas diskus untuk mengurangi tekanan pada saraf.

Bisakah mencegah Prolapse Diskus?

Prolapse diskus dapat mengalami kekambuhan, namun hanya terjadi pada 1-5 persen pasien sehingga sangat mungkin untuk dicegah. Tetap aktif dan berolahraga rutin merupakan pencegahan utama dan paling mudah untuk dilakukan.

Tidak perlu ke gym, Anda juga bisa melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki, berlari, yoga, pilates, atau berenang untuk menjaga fleksibilitas dan menguatkan tulang belakang.

Selain itu, hindari mengangkat beban terlalu berat tanpa postur tubuh yang benar. Yaitu dengan membengkokkan lutut dan menegakkan punggung.

Jaga berat badan ideal dan hindari merokok untuk mengurangi risiko terkena HNP dan prolapse diskus.

Demikian ulasan mengenai prolapse diskus beserta gejala, penyebab, dan cara pengobatannya. HNP atau prolapse diskus merupakan kondisi yang relatif dapat ditangani dan juga dicegah dengan mudah, mulai dari gaya hidup sehari-hari.

Nyeri saraf kejepit menyiksa? Hilangkan dengan Joimax di Lamina!

Pernahkah Anda merasa nyeri punggung yang menjalar hingga ke kaki atau tangan? Atau mungkin Anda sering kesemutan dan mati rasa? Jika ya, Anda mungkin mengalami saraf kejepit. Kondisi ini memang sangat mengganggu dan dapat membatasi aktivitas sehari-hari.

Lamina Pain and Spine Center hadir dengan solusi canggih untuk mengatasi masalah saraf kejepit Anda. Dengan teknologi terkini seperti Joimax, PLDD, dan radiofrekuensi ablasi, kami menawarkan perawatan yang:

  • Minim invasif: Prosedur dilakukan dengan sayatan kecil, sehingga risiko komplikasi rendah dan proses pemulihan lebih cepat.
  • Tidak perlu operasi besar: Anda bisa kembali beraktivitas dalam waktu singkat tanpa rasa sakit yang berkepanjangan.
  • Nyeri berkurang signifikan: Rasakan perbedaannya setelah perawatan! Anda akan lebih bebas bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari.
  • Ditangani oleh ahli: Tim medis kami yang berpengalaman akan memberikan perawatan terbaik dan terpersonalisasi untuk kondisi Anda.

Mengapa Memilih Lamina Pain and Spine Center?

  • Teknologi terkini: Kami selalu menggunakan teknologi terbaru dalam setiap perawatan.
  • Tim medis profesional: Dokter spesialis kami memiliki keahlian khusus dalam menangani masalah tulang belakang.
  • Pengalaman yang luas: Kami telah berhasil membantu ribuan pasien mengatasi masalah saraf kejepit.
  • Konsultasi mudah: Anda bisa berkonsultasi dengan dokter kami melalui telekonsultasi WhatsApp di 0811-8802-6621.

Jangan biarkan nyeri punggung menguasai hidup Anda! Segera konsultasikan kondisi saraf kejepit Anda dan temukan solusi terbaiknya bersama Lamina Pain and Spine Center.

Ditulis Oleh

Yogi Wicaksono

Tanggal Publikasi

March 11, 2025

Request Callbcak

Artikel Lainnya

Sacroiliac Joint Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

Sacroiliac Joint Syndrome

Spondylolisthesis: Penyebab Saraf Kejepit yang Harus Diwaspadai

spondylolisthesis

Perbandingan Antara Endoskopi dan Operasi Terbuka untuk Saraf Kejepit

Perbandingan Antara Endoskopi dan Operasi Terbuka untuk Saraf Kejepit

Kenali Bahaya Gaya Hidup Sedentari dan Cara Mengatasinya

gaya hidup sedentari - lamina pain and spine center