Terapi TENS adalah metode fisioterapi yang memanfaatkan aliran listrik bertegangan rendah untuk meredakan nyeri. Terapi ini sering digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi, termasuk saraf kejepit yang dapat menyebabkan nyeri, mati rasa, dan kelemahan otot.
Dengan stimulasi elektrik yang ditujukan ke area tertentu, TENS membantu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsi tubuh.
Artikel ini memberikan penjelasan lengkap tentang bagaimana TENS fisioterapi dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi saraf kejepit dan membantu Anda kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Jika membutuhkan konsultasi untuk masalah saraf kejepit atau nyeri tulang belakang lainnya, segera buat janji dengan Lamina Pain and Spine Center via WhatsApp di nomor 0811-8802-6621!
Apa Itu TENS Fisioterapi?
Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) adalah alat medis yang bekerja dengan cara mengirimkan impuls listrik melalui kulit menggunakan elektroda yang ditempelkan pada area tubuh tertentu.
Impuls listrik dari TENS memiliki dua fungsi utama, yaitu:
- Menghambat sinyal nyeri menuju otak.
- Merangsang produksi endorfin, yaitu zat kimia alami tubuh yang bertindak sebagai pereda nyeri.
TENS digunakan dalam fisioterapi sebagai bagian dari perawatan untuk mengelola nyeri kronis atau akut. Aliran listrik ringan ini dirancang agar aman dan dapat disesuaikan intensitas serta durasinya sesuai kebutuhan pasien.
Manfaat TENS Fisioterapi
Terapi TENS menawarkan banyak manfaat, terutama dalam pengelolaan nyeri. Berikut beberapa manfaat utamanya:
- Membantu meredakan nyeri kronis akibat kondisi seperti osteoarthritis, fibromyalgia, atau neuropati diabetes.
- Meningkatkan aliran darah ke area yang nyeri, yang dapat mengurangi peradangan lokal.
- Efektif untuk mengatasi kejang otot akibat cedera atau postur tubuh yang buruk.
- Mempercepat pemulihan jaringan yang rusak melalui peningkatan sirkulasi darah.
- Alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada obat pereda nyeri yang memiliki efek samping.
Dengan mengurangi nyeri, TENS memungkinkan pasien lebih mudah bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa ketidaknyamanan.
Dalam beberapa kasus, stimulasi listrik dari TENS membantu meningkatkan aliran darah ke area yang terluka, sehingga mempercepat proses penyembuhan.
Kondisi Medis yang Bisa dan Tidak Bisa Diatasi Menggunakan TENS
Terapi TENS sering digunakan dalam fisioterapi untuk mengelola berbagai kondisi medis. Meskipun manfaatnya signifikan, ada kondisi tertentu di mana terapi ini tidak disarankan.
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai indikasi medis dan larangan penggunaan terapi TENS:
Indikasi Medis yang Bisa Diatasi Menggunakan TENS
Terapi TENS banyak digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi medis yang berhubungan dengan nyeri. Beberapa di antaranya adalah:
- Saraf kejepit: Membantu meredakan nyeri dengan menghambat sinyal menuju otak.
- Nyeri punggung bawah: Cocok untuk kondisi seperti lumbago atau nyeri punggung bawah kronis.
- Artritis: Baik osteoartritis maupun rheumatoid arthritis dapat dikelola dengan TENS untuk mengurangi nyeri sendi dan meningkatkan mobilitas.
- Nyeri pasca operasi: Sebagai bagian dari manajemen nyeri pasca operasi untuk mengurangi ketergantungan pada obat pereda nyeri.
- Fibromyalgia: Membantu mengelola rasa sakit dan kelelahan.
- Neuropati diabetes: Meredakan nyeri akibat kerusakan saraf.
- Cedera olahraga: Mengatasi keseleo, otot tegang, dan lainnya.
- Migrain: Dapat digunakan untuk meredakan intensitas nyeri tertentu.
Kondisi yang Dilarang Menggunakan TENS Fisioterapi
Terapi ini memang memiliki banyak keuntungan, tetapi mungkin tidak cocok untuk semua orang. Ada beberapa kondisi medis di mana penggunaannya dilarang, diantaranya:
- Pasien dengan alat pacu jantung atau implan elektronik lainnya.
- Wanita hamil (terutama trimester pertama) tanpa pengawasan medis.
- Pasien dengan epilepsi karena risiko kejang.
- Kulit terinfeksi atau luka terbuka.
- Pasien dengan kanker aktif di area penggunaan.
- Gangguan pembekuan darah atau penggunaan obat pengencer darah.
- Area dekat jantung atau leher karena risiko gangguan ritme jantung.
Cara Kerja TENS Fisioterapi pada Saraf Kejepit
Saraf kejepit terjadi ketika jaringan di sekitar saraf, seperti tulang, otot, atau tendon, memberikan tekanan berlebih pada saraf tersebut. Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk leher, punggung bawah, dan anggota tubuh lainnya.
Nah, diantara berbagai pengobatan, penggunaan TENS dalam fisioterapi untuk saraf kejepit sering kali dianjurkan.
TENS bekerja dengan mengirimkan impuls listrik melalui elektroda kecil yang ditempelkan pada kulit di area yang nyeri. Impuls ini memengaruhi saraf sensorik dan memiliki beberapa efek utama seperti:
- Blokade sinyal nyeri: Aliran listrik dari unit TENS mengganggu sinyal nyeri yang dikirimkan oleh saraf ke otak. Dengan cara ini, rasa sakit yang dirasakan oleh pasien dapat berkurang secara signifikan.
- Stimulasi produksi endorfin: Impuls listrik selanjutnya dapat merangsang pelepasan endorfin, yaitu zat kimia alami tubuh yang berfungsi sebagai pereda nyeri. Endorfin membantu mengurangi ketidaknyamanan secara keseluruhan.
- Relaksasi otot: Meredakan ketegangan otot di sekitar area saraf yang terjepit. Ketika otot-otot menjadi rileks, tekanan pada saraf berkurang, sehingga gejala nyeri juga mereda.
- Meningkatkan sirkulasi darah: Impuls listrik dapat meningkatkan aliran darah ke area yang nyeri. Peningkatan sirkulasi darah ini membantu proses penyembuhan jaringan yang teriritasi.
Prosedur Penggunaan Terapi TENS Fisioterapi
Meskipun unit TENS tersedia secara bebas di pasaran, penggunaannya tetap memerlukan bimbingan dari dokter spesialis rehabilitasi medis atau fisioterapis.
Artinya, TENS harus dilakukan di bawah pengawasan profesional medis, terutama pada tahap awal. Adapun prosedur penggunaan TENS fisioterapi meliputi:
- Sebelum memulai terapi TENS, pasien biasanya menjalani evaluasi medis untuk menentukan penyebab nyeri dan lokasi saraf kejepit.
- Elektroda ditempelkan pada kulit di sekitar area yang nyeri. Posisi elektroda sangat penting untuk memastikan bahwa stimulasi listrik mencapai saraf target.
- Intensitas aliran listrik diatur sesuai dengan kenyamanan pasien. Dokter atau fisioterapis akan memastikan bahwa stimulasi terasa nyaman dan tidak menimbulkan iritasi.
- Sesi terapi biasanya berlangsung antara 20-60 menit, tergantung pada kondisi pasien dan rekomendasi dokter.
Dokter akan mendiagnosis apakah nyeri yang dialami benar-benar disebabkan oleh saraf kejepit atau kondisi lain yang memerlukan penanganan berbeda.
Temukan Solusi Saraf Kejepit di Lamina Pain and Spine Center
TENS adalah metode terapi yang efektif dan aman untuk mengurangi nyeri, baik akut maupun kronis. Dengan prinsip kerja yang sederhana namun efektif, alat ini menjadi salah satu pilihan utama dalam fisioterapi modern.
Namun, penting untuk diingat bahwa terapi ini tidak cocok untuk semua orang. Pasien dengan alat pacu jantung, wanita hamil, atau orang dengan gangguan kulit di area pemasangan elektroda harus menghindari penggunaan TENS tanpa rekomendasi medis.
Untuk memastikan terapi ini aman dan efektif, konsultasikan penggunaan TENS dengan dokter spesialis di Lamina Pain and Spine Center.
Dengan bimbingan yang tepat dari dokter di Lamina, Anda dapat mengelola nyeri saraf kejepit secara optimal dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Jika membutuhkan konsultasi untuk masalah saraf kejepit dan nyeri tulang belakang lainnya, segeralah buat janji via Whatsapp ke nomor 0811-8802-6621.
Klinik saraf kejepit Lamina berlokasi di Mampang dengan cabang yang tersebar di Cibubur, Kuningan, dan Pulomas. Lamina juga menyediakan layanan telekonsultasi dan layanan ambulans untuk membantu memudahkan pasien yang terkendala jarak.