Konten Artikel

Elektromiografi (EMG): Pengertian, Prosedur, dan Manfaat

elektromiografi emg

Elektromiografi EMG adalah sebuah prosedur diagnostik untuk mengevaluasi fungsi otot dan saraf, misalnya jika ada kelainan atau gangguan seperti misalnya sindrom carpal tunnel, distrofi otot, ataupun saraf kejepit.

Dalam beberapa kasus, prosedur EMG sering dikombinasikan dengan studi konduksi saraf dan teknik radiologi lainnya seperti CT Scan atau MRI.

Prosedur diagnostik non-invasif ini sangat berguna bagi dokter dalam menentukan diagnosis dan pengobatan yang tepat dengan gangguan neuromuskular yang dialami pasien.

Kenali lebih jauh mengenai tes EMG, fungsi, cara kerja, prosedur, serta risiko dan manfaatnya di artikel ini. 

Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut atau ingin membuat janji konsultasi, hubungi Lamina Pain and Spine Center melalui WhatsApp di 0811-8802-6621.

Dapatkan solusi terbaik untuk masalah saraf Anda dengan layanan yang cepat, terpercaya, dan profesional di Lamina Pain and Spine Center.

Apa itu elektromiografi (EMG)?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, elektromiografi atau EMG merupakan prosedur yang mengukur aktivitas listrik berbentuk “sinyal” pada otot. Ketika otot sedang bekerja atau beristirahat, saraf yang mengendalikan otot akan mengirim sinyal listrik.

Dari data hasil pengukuran dan pemeriksaan aktivitas otot tersebut, maka dokter spesialis saraf dapat mengidentifikasi apakah terjadi gangguan neuromuskular pada pasien. 

Tes ini dapat dilakukan di fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit dan juga klinik khusus neurologi. Biasanya, dokter akan menyarankan untuk menjalani prosedur ini apabila mengalami gejala seperti kelemahan otot, mati rasa, atau kesemutan. 

Prosedur EMG umumnya hanya dapat dilakukan oleh dokter rehabilitasi medis atau dokter spesialis saraf (neurologis) yang telah menjalani pelatihan khusus.

Fungsi dan jenis elektromiografi (EMG)

Penggunaan elektromiografi untuk diagnosis penyakit saraf dan otot umumnya menjadi fungsi utama. Sebab tujuan utama tes EMG adalah untuk melihat apakah otot tubuh dapat merespons sinyal saraf dengan baik dan benar.

Apabila otot merespons dengan baik, maka ia akan spontan bergerak jika menerima sinyal listrik dari saraf saat memberikan perintah untuk bekerja. Maka dari itu, jika Anda merasakan nyeri kronis dan kelemahan otot tanpa diketahui penyebabnya, biasnaya dokter akan menyarankan menjalani tes EMG.

Adapun gejala lainnya yang mengindikasikan gangguan neurologis yang memerlukan tes EMG antara lain:

  • Mati rasa atau kebas
  • Kesemutan atau rasa geli pada otot
  • Kram otot
  • Nyeri di bagian tubuh tertentu

Nah, sesuai dengan fungsi serta tekniknya, tes elektromiografi (EMG) dibedakan menjadi beberapa jenis seperti berikut ini:

1. Intramuscular Electromyography

Intramuscular electromyography sering disebut juga sebagai tes jarum EMG. Sesuai namanya, tes ini menggunakan elektroda berupa jarum yang halus dan tipis.

Jarum tersebut akan dimasukkan ke dalam otot melalui permukaan kulit. Posisi tersebut memungkinkan informasi analisis yang didapat akan lebih spesifik dan mudah, sebab jarak antara serat otot aktif dan elektrodanya cukup berdekatan.

Akan tetapi, jenis EMG ini hanya dapat merekam aktivitas dari sebagian kecil area di otot. Selain itu juga ada risiko rasa nyeri hingga infeksi atau pendarahan pada area yang ditusuk jarum.

Oleh karena itu intramuscular electromyography sendiri jarang digunakan. Biasanya dokter hanya menganjurkan pada kondisi-kondisi tertentu yang memang membutuhkan metode seperti ini. 

2. Surface Electromyography (sEMG)

Jenis EMG yang satu ini dianggap lebih aman dan juga praktis, sehingga sering dilakukan oleh dokter. Alat elektroda cukup ditempel di permukaan kulit, di bagian atas otot yang mengalami keluhan untuk merekam sinyal pergantian otot dan mengukur kekuatan otot selama kontraksi.

Sayangnya, hasil pengukuran hanya bisa didapatkan dari otot besar yang berada di dekat permukaan kulit. Surface EMG kerap digunakan pada atlet yang sedang mengalami cedera. 

3. High-density EMG (HD-EMG)

High-density EMG atau EMG kepadatan tinggi adalah prosedur diagnostik non-invasif yang berfungsi mengukur aktivitas kelistrikan otot dengan lebih dari dua alat elektroda yang ditempel di kulit. Keduanya diletakkan dengan jarak berdekatan namun merata di area yang terasa sakit.

Hasil pengukurannya berupa matriks 2D ataupun array linear. Dokter biasanya menggunakan jenis EMG ini untuk memperluas kemungkinan mengevaluasi karakteristik otot baru, seperti misalnya unit motorik tunggal. 

Kapan elektromiografi diperlukan?

Secara umum, elektromiografi (EMG) akan direkomendasikan untuk pasien dengan gejala-gejala tertentu di bagian otot maupun saraf, contohnya seperti kelemahan otot, mati rasa, kesemutan, kram, nyeri otot, atau gangguan refleks. 

Gejala tersebut berkaitan dengan berbagai gangguan neurologis yang memerlukan tes EMG, antara lain:

  • Sindrom carpal tunnel
  • Sklerosis lateral amiotrofik (ALS)
  • Gangguan otot seperti distrofi otot, miopati, atau polimiositis
  • Neuropati perifer
  • Radikulopati atau tekanan saraf di area tulang belakang
  • Sindrom moebius pada bayi
  • Masalah-masalah yang memengaruhi akar saraf, seperti hernia atau saraf kejepit pada tulang belakang

EMG juga berguna untuk menentukan lokasi, tingkat keparahan, atau mengecualikan kondisi tertentu, sering kali didukung oleh tes pencitraan, tes darah, atau biopsi otot.

Bagaimana cara kerja alat elektromiografi (EMG)?

Cara kerja alat elektromiografi dalam mendeteksi aktivitas listrik otot sebenarnya hampir tidak jauh dengan cara otot tubuh kita bekerja.

Umumnya otot yang sedang beristirahat tidak akan memiliki aktivitas listrik, namun sedikit saja gerakan atau kontraksi otot akan memunculkan sejumlah aktivitas listrik.

Aktivitas tersebut akan semakin meningkat ketika kontraksinya semakin intens. Nah, aktivitas inilah yang akan ditangkap oleh elektroda yang kemudian dihubungkan dengan komputer.

Elektroda tersebut dapat berbentuk jarum kecil yang nantinya ditusukkan ke dalam kulit atau hanya ditempelkan di kulit. Fungsinya hampir mirip seperti mikrofon, di mana ia akan merekam aktivitas listrik dari otot tersebut saat ia bergerak dan beristirahat. 

Hasil “rekaman” elektroda ditampilkan di layar komputer sebagai gelombang yang nantinya akan dianalisis oleh teknis elektromiografi.

Selanjutnya, teknisi akan menginterpretasikannya menjadi data bagi dokter untuk menganalisis apakah ada tanda-tanda masalah.

Contohnya, jika otot memiliki pola gelombang aktivitas listrik yang tak normal keitka bergerak, maka kemungkinan besar otot tersebut mengalami kerusakan. Prosedur EMG biasanya dikombinasikan dengan tes konduksi saraf (NCS) untuk membantu mengukur kecepatan aktivitas listrik tersebut. 

Persiapan sebelum menjalani tes EMG

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh pasien sebelum menjalani tes EMG, di antaranya: 

  • Membersihkan kulit agar bebas minyak
  • Menghindari penggunaan lotion ataupun krim pada tubuh, setidaknya beberapa hari sebelum melakukan tes
  • Tidak merokok atau mengonsumsi kafein selama 2-3 jam sebelum tes
  • Menggunakan pakaian yang memudahkan akses pemeriksaan
  • Melepaskan seluruh benda-benda logam di tubuh, misalnya jam tangan atau perhiasan

Selain hal-hal di atas, Anda juga diwajibkan untuk menyampaikan segala kondisi kesehatan lainnya kepada dokter, terutama jika sedang mengonsumsi obat tertentu, memiliki gangguan pembekuan darah, atau menggunakan alat pacu jantung.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi medis yang sedang dialami. 

Prosedur elektromiografi (EMG)

Biasanya, dokter neurologi akan melakukan prosedur elektromiografi (EMG) setelah tes konduksi saraf. Prosedur EMG bervariasi tergantung otot serta saraf mana yang perlu diperiksa dan juga kondisi pasien. 

EMG bisa dilakukan untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit. Secara umum, berikut tata cara pelaksanaan tes elektromiografi: 

  1. Setelah melakukan semua prosedur sebelum tes, pasien akan diminta duduk atau berbaring 
  2. Dokter akan membersihkan permukaan kulit yang berada di bagian atas otot yang mengalami gangguan menggunakan larutan antiseptik
  3. Kemudian dokter akan menempelkan atau menusukkan elektroda (jika berbentuk jarum kecil) di area tersebut
  4. Pasien akan dipandu untuk melakukan sejumlah gerakan yang bisa mengencangkan otot
  5. Aktivitas listrik dari otot yang bekerja kemudian diukur dan direkam oleh mesin EMG, lalu ditampilkan di monitor
  6. Dokter akan menganalisis data tersebut dan dapat menggunakan penguat audio untuk menambahkan suara denyut aktivitas listrik jika diperlukan
  7. Pasien diharapkan tenang dan mengikuti seluruh instruksi dokter
  8. Setelah analisis selesai, elektroda akan dilepaskan perlahan. Prosedur akan diulangi pada otot berikutnya hingga keseluruhan tes selesai
  9. Jika rawat jalan, pasien diperbolehkan pulang jika sudah tidak ada tes yang akan dilakukan

Tes EMG biasanya memakan waktu selama 30 hingga 60 menit. Beberapa pasien merasa tidak nyaman karena penggunaan jarum, namun prosedur ini sangat minim rasa sakit dan bersifat sementara.

Hasil pemeriksaan bisa memakan waktu selama 24 hingga 48 jam setelah tes. Dokter akan menjelaskan lebih rinci mengenai hasil tersebut dan apakah pasien memerlukan prosedur lanjutan setelah hasil EMG.

Risiko dan efek samping elektromiografi (EMG)

Sebagai prosedur dengan risiko rendah, umumnya elektromiografi jarang menimpulkan komplikasi dan efek samping. Meski begitu, ada sejumlah risiko ringan yang dapat terjadi, seperti:

  • Nyeri ringan atau memar di area tusukan jarum
  • Infeksi kecil di tempat tusukan, namun sangat jarang
  • Cedera saraf saat jarum dimasukkan ke dalam otot

Risiko-risiko di atas tergolong sangat ringan dan dapat segera membaik beberapa hari setelahnya. Adapun risiko yang sangat kecil untuk mengalami kebocoran udara hingga paru-paru kolaps (pneumotoraks).

Apabila Anda mengalami pendarahan yang tidak berhenti, nyeri hebat di area tusukan jarum, maupun kemerahan, bengkak, atau demam yang menunjukkan tanda-tanda infeksi, segera hubungi dan periksakan ke dokter untuk meminimalisir terjadinya komplikasi.

Keunggulan tes elektromiografi (EMG)

EMG punya peran penting dalam bidang neurulogi dan ortopedi, khususnya sebagai teknologi yang memungkinan deteksi dini untuk gangguan neuromuskular. Deteksi dini sangat penting agar pasien dapat memulai terapi lebih cepat.

Apalagi, dengan kemajuan teknologi medis, prosedurnya pun kini sudah lebih nyaman dan efektif. Sehingga dapat memberikan sejumlah manfaat seperti:

1. Diagnosis yang akurat

Melalui data yang dari mesin EMG, dokter dapat membantu mengidentifikasi penyebab gejala neuromuskular dengan tepat, sehingga memungkinkan pengobatan yang lebih efektif.

2. Membantu rencana perawatan

Dokter bisa menentukan rencana perawatan yang terbaik, misalnya fisioterapi, operasi, atau terapi obat.

3. Risiko komplikasi kecil

Tes EMG adalah metode non-invasif, di mana sebagian besar tidak melibatkan pembedahan hanya menusukkan jarum kecil saja. Sehingga risiko komplikasi sangat kecil.

Demikian penjelasan mengenai apa itu elektromiografi dan fungsinya. Secara umum, elektromiografi (EMG) adalah prosedur yang minim risiko dan komplikasi dengan hasil yang cukup akurat untuk membantu menentukan diagnosis dan juga pengobatan yang efektif. Semoga bermanfaat!

Lamina Pain and Spine Center: Klinik Tercanggih untuk Saraf Kejepit

Apakah Anda merasakan nyeri, kesemutan, atau kelemahan pada bagian tubuh tertentu? Bisa jadi itu merupakan gejala saraf kejepit yang membutuhkan perhatian medis segera.

Jangan tunda untuk mendapatkan penanganan profesional demi mencegah komplikasi lebih lanjut dan mengembalikan kualitas hidup Anda.

Di Lamina Pain and Spine Center, kami memiliki pengalaman dan keahlian dalam menangani berbagai masalah terkait saraf kejepit.

Klinik utama kami terletak di Mampang, Jakarta Selatan, dan kami juga hadir di beberapa cabang, termasuk Cibubur, Kuningan, dan Pulomas, agar Anda bisa mendapatkan perawatan yang lebih mudah diakses.

Kami tahu betul bahwa waktu Anda sangat berharga, oleh karena itu kami menyediakan telekonsultasi melalui WhatsApp.

Layanan ini memungkinkan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis dari mana saja tanpa perlu datang langsung ke klinik.

Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut atau ingin membuat janji konsultasi, hubungi tim kami melalui WhatsApp di 0811-8802-6621.

Dapatkan solusi terbaik untuk masalah saraf Anda dengan layanan yang cepat, terpercaya, dan profesional di Lamina Pain and Spine Center.

Ditulis Oleh

Yogi Wicaksono

Tanggal Publikasi

February 16, 2025

Request Callbcak

Artikel Lainnya

10 Tips Untuk Ibu Hamil Saraf Kejepit: Apa Saja?

ibu hamil saraf kejepit - lamina pain and spine center

Kenali Gejala dan Penyebab Ligamentum Flavum Hypertrophy Pada Tulang Belakang

ligamentum flavum hyperthrophy

Perbandingan Antara Endoskopi dan Operasi Terbuka untuk Saraf Kejepit

Perbandingan Antara Endoskopi dan Operasi Terbuka untuk Saraf Kejepit

Kenali Bahaya Gaya Hidup Sedentari dan Cara Mengatasinya

gaya hidup sedentari - lamina pain and spine center